Sulitnya Dunia Bebaskan Palestina dari Jeratan Israel



Mimpi rakyat Palestina untuk merdeka sepenuhnya sampai detik ini belum terwujud. Mereka mendambakan negara yang merdeka dengan wilayah meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur yang sebagian masih diduduki Israel.

Pemerintah Palestina memang sudah terbentuk. Mereka memilih perdana menteri, presiden dan kabinet layaknya sebuah pemerintahan. Namun, Israel tidak berhenti memperluas wilayah permukiman untuk warganya di wilayah Palestina. Negara Yahudi itu juga masih memblokade Jalur Gaza yang membuat rakyat Palestina di wilayah itu menderita bertahun-tahun.

Alih-alih pemerintah Israel memberikan restu bagi Palestina untuk merdeka. Sebagian besar rakyat Israel justru menentang berdirinya negara Palestina yang merdeka.

Sebuah survei yang dilakukan Lembaga Urusan Publik di Pusat Yerusalem yang dilansir media Israel, Haaretz, Senin (20/10/2014) menjadi contoh nyata. Tiga dari empat warga Yahudi Israel menentang berdirinya negara Palestina yang merdeka dengan wilayah sesuai peta tahun 1967.

Survei yang dilakukan dari 12-14 Oktober 2014 dilakukan terhadap 505 warga Yahudi Israel. Sebanyak 74,3 persen dari mereka menentang berdirinya negara Palestina dengan wilayah sesuai peta 1967.

Angka itu meningkat menjadi 74,9 persen, ketika mereka ditanya soal pembentukan negara Palestina dengan penarikan pasukan Israel dari Lembah Yordaan. Sekitar 75 persen dari responden tidak setuju jika pasukan internasional menggantikan pasukan Israel di Lembah Yordan, seperti yang diusulkan pemerintah Amerika Serikat (AS).

Masyarakat dunia, termasuk Indonesia telah lama mendukung Palestina merdeka. Bahkan, Indonesia tidak pernah bersedia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel selama negara itu masih menduduki Palestina.

Hanya Dukungan Segelintir Eropa

Tak hanya Indonesia, baru-baru ini masyarakat dunia dari kawasan Eropa mulai memberikan dukungan terhadap Palestina. Tiga negara, yakni Prancis, Swedia dan Inggris mewacanakan untuk mengakui negara Palestina.

Inggris melalui parlemennya beberapa hari lalu, menggelar membuat pemungutan suara untuk menekan pemerintah Inggris agar mengakui Palestina. Sedangkan Swedia, melalui Perdana Menteri barunya, Stefan Loefven, membuat gebrakan untuk mengakui kemerdekaan Palestina. (Baca: Terobosan Eropa, Swedia akan Akui Negara Palestina)

Sementara itu, Prancis juga mendukung kemerdekaan Palestina. Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius justru mendesak beberapa negara Eropa agar mewujudkan secara nyata dukungan mereka terhadap kemerdekaan Palestina.

"Setiap pengakuan terhadap Palestina sebagai sebuah negara harus bermanfaat bagi perdamaian, serta sebagai bagian dari solusi dua negara antara Israel dan Palestina, dan bukan hanya pernyataan simbolis semata," ucap Fabius, pekan lalu.

Israel dan Amerika Gusar

Manuver negara-negara Eropa--meski baru berjumlah sedikit—untuk mengakui kemerdekaan Palestina, sudah pasti membuat Israel gusar. Pemerintah Israel mengecam negara-negara Eropa yang ingin mengakui negara Palestina dengan dalih merusak proses perdamaian Israel dan Palestina.

"Pengakuan internasional yang prematur seakan-akan mengirimkan pesan mengganggu untuk kepemimpinan Palestina, di mana mereka dapat menghindari pilihan sulit yang harus dibuat oleh kedua belah pihak (Israel dan Palestina)," ungkap Kementerian Luar Negeri Israel dalam sebuah pernyataan.

"Bila terjadi, hal ini benar-benar merusak kesempatan yang sudah terbuka lebar untuk mencapai perdamaian yang nyata antara kami dan Palestina," lanjut pernyataan itu. (Baca juga: Parlemen Inggris akan Akui Palestina, Israel Geram)

Tak hanya Israel yang sepertinya tidak rela melihat Palestina menggapai mimpinya untuk merdeka. Amerika Serikat (AS) yang merupakan sekutu utama Israel juga gusar dengan manuver negara-negara Eropa yang mulai mendukung kemerdekaan Palestina.

"Kami percaya pengakuan internasional terhadap negara Palestina adalah sesuatu yang prematur," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki. Psaki menegaskan, AS pasti akan mengakui kedaulatan Palestina, tetapi bila negara tersebut sudah melalui serangkaian proses negoisasi dengan Israel untuk memastikan tidak ada konflik di masa depan. (*sindo)

VIDEO: Remaja ISIS tantang Obama, Nyatakan Perang


Abdullah Emir, 17, remaja asal Sydney, bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan menyatakan perang pada negara-negara Barat.

Dia juga menantang Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott.

Emir muncul dalam video yang mengagetkan warga Australia, terutama ibunya.

Remaja belasan tahun itu meninggalkan rumahnya dengan alasan ingin pergi memancing pada Juni 2014 lalu. Sejak itu dia tidak pulang dan tiba-tiba muncul menjadi militan ISIS.

Dalam video yang sudah diunggah ke YouTube semalam, Emir tampak mengenakan perlatan militer termasuk senapan dan dikelilingi puluhan militan ISIS lainnya.

Remaja berambut pirang itu berbicara dengan mengaku bernama Abu Khaled. Dalam video berdurasi dua menit, remaja ini bersumpah bahwa ISIS tidak akan berhenti beraksi sampai bendera hitam berkibar di seluruh dunia, termasuk di atas Gedung Putih, Amerika Serikat.

"Saya mengatakan ini kepada koalisi Anda (negara-negara Barat).Anda Mengancam kami dengan sekutu-sekutu Anda, membawa setiap bangsa untuk melawan kami," kata Emir dalam video tersebut, seperti dikutip Daily Telegraph.com.au, Selasa (21/10/2014).

"Untuk para pemimpin, untuk Obama, Tony Abbott, saya mengatakan ini; Bahwa senjata asli kami ada di tentara kami, kita tidak akan berhenti berjuang," ujarnya.

"Kami tidak akan meletakkan senjata kami sampai kami menjangkau tanah Anda, sampai kita mengambil setiap kepala tiran dan sampai bendera hitam terbang tinggi di setiap negara, sampai kami menempatkan bendera hitam di atas Istana Buckingham, sampai kami menempatkan bendera hitam di atas Gedung Putih," imbuh dia.




Chomsky: “Jangan Bunuhi Muslim, Jika Tak Mau Dibunuh”


Amerika Serikat serta negara-negara Barat yang tergabung dalam NATO melakukan segala cara untuk menghentikan yang mereka sebut 'teroris'. Bukanlah suatu kebetulan jika yang mereka sebut 'teroris' itu, 99,99 persen adalah orang-orang Islam.

Untuk menghentikan 'teroris-teroris' itu, maka mereka pun berburu jauh sampai ke Iraq dan Afghanistan.

Namun menurut Prof. Noam Chomsky, seorang ahli bahasa, filsuf, ilmuwan, aktivis politik, penulis dan dosen, serta seorang profesor emeritus linguistik di Massachusetts Institute of Technology, menghentikan terorisme itu hal yang mudah saja. 

Dalam salah satu sebuah pidatonya yang beredar di youtube dan banyak diposting dimana-mana, ada cara efektif untuk menghentikan 'terorisme' untuk mengakhiri perang yang tak kunjung selesai. Tidak perlu mengeluarkan biaya besar dan mengerahkan pasukan yang banyak. 

Chomsky mengatakan jika ingin menghentikan 'terorisme', maka Amerika Serikat dan Barat, ujarnya harus berhenti membunuh orang-orang Muslim. 

"Jika ingin orang Muslim berhenti membunuh Anda, maka berhentilah membunuh mereka!"

Artinya, Mereka (muslim) akan melakukan tindakan perlawanan, jika dianiaya atau bahkan sampai dibunuh, direnggut harta dan kepemilikannya. 

Dengan kata lain, bahwa bukanlah orang-orang yang dicap 'teroris' yang telah memulai pembunuhan-pembunuhan itu. Nah Amerika, sebaiknya dengarkanlah Chomsky.

 [sa/islampos/islamicawakening]

Lihat! Video Polisi Rasial New York terhadap Muslim


Sebuah video yang memperlihatkan polisi New York mendorong dan menggeledah dua lelaki Muslim, hanya karena keduanya berpakaian khas Timur Tengah, memicu kemarahan di media sosial.

Adam Saleh mengunggah video itu ke YouTube setelah ia mengklaim telah cukup bukti polisi memperlakukannya secara rasial, hanya karena mengenakan pakaian Timur Tengah.

Bersama Sheikh Akbar, Adam biasa mengunggah video-video lucu dan lelucon dengan akun TrueStoryASA. Ia memiliki 650 ribu pelanggan.

Keduanya membuat video baru karena frustrasi dengan perilaku polisi yang kerap menguntitnya. Terutama saat mereka mengenakan pakaian tradisional Arab.

Dalam video berdurasi tiga menit dengan judul Kacau dan Kejam, Adam dan Akbar mengenakan pakaian seperti kebanyakan anak muda AS. Keduanya lewat di depan polisi, berbicara dengan aksen AS, dan bertengkar ringan.

Polisi di pinggir jalan tak menggubris.

Dua puluh menit kemudian, keduanya lewat lagi di depan polisi itu. Kali ini dengan mengenakan pakaian tradisional Arab.

Keduanya berpura-pura adu argumen. Polisi, masih orang yang sama, menghampiri keduanya. Mendorong salah satunya ke dinding, menendang kakinya hingga terjatuh, dan menggeledah.

Satu lainnya menunggu giliran, seraya terus mengatakan mereka tidak punya masalah apa pun. Polisi itu tidak peduli, dan memeriksa satu lainnya.

Kepada polisi itu Adam mengatakan; "20 menit lalu kami lewat dan hendak saling memukul, tapi Anda tidak melakukan apa-apa untuk melerai." Polisi itu diam saja.

Video ditutup Adam dan Akbar dengan pernyataan; "Apa yang kalian lihat di video ini juga dialami Muslimah yang mengenakan jilbab dan orang-orang kulit putih yang tidak putih."

Keduanya juga mengatakan; "Jangan berpikir insiden ini akan membuat kami menanggalkan pakaian Arab. Kami akan terus mengenakannya dan memfilmkannya tanpa merugikan siapa pun.

Ribuan orang yang menyaksikan video ini segera membuka Twitter dan memaki-maki sang polisi.




FOTO: Pantai dan Danau berwarna Pink Menawan Seantero Dunia

DANAU HILLIER, AUSTRALIA BARAT: Lake Hillier di Australia Barat juga mendapat warna pink dari Dunaliella salina. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa warna kemerahan itu berasal dari bakteri halophilic yang bisa hidup di air asin.

The algae develops the beta-carotene pigment when the lake water reaches a salinity level greater than that of sea water, and when adequate light and temperature conditions are achieved.
PORT GREGORY, AUSTRALIA BARAT. Alga ini menghasilkan pigmen beta-carotene pigment ketika air danau mencapai tingkat salinitas lebih tinggi daripada salinitas laut, dan ketika mendapat cahaya dan suhu yang cukup.

Here at Hutt Lagoon in Western Australia, Dunaliella salina is farmed for its red beta-carotene pigment, which is then used in food colouring.
HUTT LAGOON, PORT GREGORY, AUSTRALIA BARAT Di Hutt Lagoon, Australia Barat, , Dunaliella salina diambil pigmen merah beta-carotene yang digunakan sebagai zat pewarna.

This stunning lake in Torrevieja, Spain might look like it has been touched up with a photo filter, but its dusky pink hues are 100 percent natural. It's caused by a microscopic algae called Dunaliella salina that thrives in waters with high salt content. Click through or swipe for more photos of pink lakes and beaches.
Torrevieja in Alicante, Spain is home to two large salt lakes, named Las Salinas.
TORREVIEJA, SPANYOL Torrevieja di Alicante mempunyai dua danau asin yang disebut Las SalinasDanau menawan yang ada di Torrevieja, Spanyol ini nampak seperti foto yang sudah diolah menggunakan software. Namun warna pink ini adalah warna alami. Warna ini berasal dari algae yang disebut Dunaliella salina yang hidup dalam air bergaram tinggi.

Senegal's Lake Retba has a very high salt content: up to 40 percent, compared to the Dead Sea's 31.5 percent.
DANAU RETBA, SENEGAL 
Danau Retba di Senegal ini mempunya kandungan garam hingga 40 persen, lebih tinggi daripada Laut Mati yang hanya 31.5 persen.

Late in the dry season, which runs from November to June, the lake visibly changes colour throughout the day, from purple to scarlet pink.
.
A wicker chair stands covered in salt deposits.
DANAU RETBA, SENEGAL Pada musim panas di bulan November sampai Juni, warna danau ini berubah seiring waku, dari ungu menjadi ungu kemerahan.

The lakes turn pink when sunlight falls on the algae-rich waters.
DANAU RETBA, SENEGAL Danau ini berubah menjadi pink saat diterpa teriknya mentari.

.
.
REDWOOD CITY SALT PONDS, SAN FRANCISCO, AS

Koyashskoe Lake is part of a system of shallow lagoons in the Crimea called Sivash, also known as the 'Rotten Sea'.
.
DANAU KOYASHSKOE, UKRAINA Danau ini juga dikenal sebagai "Laut Busuk"

Harbour Island in the Bahamas is renowned for its pink beaches, caused by the presence of microscopic shelled animals known as Foraminifera.
HARBOUR ISLAND, KEPULAUAN BAHAMA Harbour Island di Kepulauan Bahama dikenal mempunyai pantai berwarna pink karena adanya hewan bercangkang kecil yang disebut Foraminifera.