Setan Berkalung Surban



Prof. KH Ali Mustafa Ya'qub

Dalam kitab Sahih al-Bukhari, ada kisah menarik. Sahabat Abu Hurairah ditugasi Nabi SAW untuk menjaga gandum hasil zakat. Tiba-tiba, pada malam hari ada seorang lelaki berbadan kekar dengan memanggul karung mencuri gandum tersebut.

Abu Hurairah kemudian menangkapnya dan akan menghadapkannya kepada Nabi, tapi pencuri tadi memelas, dia merayu Abu Hurairah agar melepaskannya. Abu Hurairah kemudian melepaskannya dan memintanya berjanji agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Esok harinya, Abu Hurairah ditanya Nabi, "Hai Abu Hurairah, apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kamu tangkap tadi malam?" Abu Hurairah menceritakan kejadian itu kepada beliau. Nabi kemudian berkata, "Awasilah, nanti malam dia akan datang lagi."

Benar, pada malam kedua pencuri itu datang lagi dan mencuri gandum. Abu Hurairah menangkapnya lagi dan pencuri itu kembali merayu sehingga Abu Hurairah melepaskannya.

Esok harinya, Nabi menanyakan kepada Abu Hurairah seperti pertanyaan yang kemarin, Abu Hurairah juga menjawab seperti itu. Nabi kemudian berkata, "Ingatlah, nanti malam dia akan datang lagi."

Abu Hurairah mulai curiga, mengapa pencuri ini terus melakukannya. Dan, Abu Hurairah berjanji dalam hati, "Nanti malam, tidak mungkin aku lepaskan kalau dia mencuri lagi." Benar, pada malam ketiga pencuri itu datang dan mencuri lagi.

Maka, Abu Hurairah seperti janji pada dirinya akan melaporkan dan membawa pencuri itu kepada Nabi, Abu Hurairah tidak akan melepaskannya.

Namun, sebelum berangkat menghadap Nabi, pencuri itu meminta kepada Abu Hurairah untuk sedikit berbicara dan Abu Hurairah mempersilakannya. "Hai Abu Hurairah, maukah kamu saya beri amalan-amalan?" begitu kata pencuri tadi kepada Abu Hurairah.

Abu Hurairah langsung kaget, dalam hati ia berkata, "Ini pencuri kok mau ngasih amalan-amalan. Jangan-jangan dia seorang ustaz." Abu Hurairah pun penasaran. Maklum, para sahabat Nabi senang dengan amalan-amalan.

"Amalan apakah itu?" tanya Abu Hurairah. Pencuri tadi menjawab, "Hai Abu Hurairah, bacalah ayat Kursi sebelum kamu tidur maka Allah akan menjaga kamu malam itu dari godaan setan." Mendengar jawaban itu, Abu Hurairah langsung melepaskannya.

Dalam hati, ia berkata, "Pencuri ini benar-benar seorang ustaz." Esok harinya, Nabi menanyakan hal itu lagi kepada Abu Hurairah dan Abu Hurairah menceritakan pencuri itu memberikan amalan. Nabi kemudian menanyakan, "Amalan apakah itu?"

Abu Hurairah menjawab seperti yang dikatakan pencuri itu tadi malam. Nabi berkata, "Amalan yang dia berikan itu benar, tetapi dia itu bohong." Nabi kemudian bertanya, "Hai Abu Hurairah, tahukan kamu siapakah yang datang tiga malam berturut-turut itu?"

Abu Hurairah menjawab, "Tidak tahu." Nabi berkata, "Dia itu adalah setan." Dari hadis ini, ada pelajaran menarik. Pertama, setan dapat menjelma menjadi manusia.

Kedua, dalam rangka mengecoh dan mencari korban, setan dapat menjelma menjadi sorang ustaz ataupun ustazah dengan segala atribut dan nasihat-nasihatnya. Di sinilah, banyak orang terkecoh dengan penampilan setan.

Apabila yang digoda seorang yang senang beribadah, setan tidak akan menyuruhnya bermain judi, mencuri, korupsi, dan sebagainya. Tetapi, setan menyerunya melakukan perbuatan yang lahiriahnya adalah sebuah ibadah.

Ketika sebuah ibadah dilakukan tidak dalam rangka menjalankan perintah Allah dan atau rasul-Nya, apalagi dalam rangka memenuhi keinginan selera alias hawa nafsu yang dibisik oleh setan, di sinilah ibadah itu bukan untuk Allah, melainkan untuk setan.

Untung, Abu Hurairah diberitahu Nabi bahwa wiridan tersebut benar, sehingga ia megamalkannya bukan karena mengikuti perintah setan, tapi mengikuti perintah Nabi.

Hadis ini juga memberikan peringatan kepada kita agar hati-hati menghadapi rayuan setan karena boleh jadi setan betina tampil dengan jilbab dan busana Muslimah dan setan jantan tampil dengan berkalung serban. (*ROL)


Ukraina Negara Damai Berubah Kacau


Mari alihkan perhatian kita sejenak ke Ukraina. Sebuah negara yang baru merdeka dari Uni Sovyet pada 24 Agustus 1991.

Ukraina, secara geografis bisa disebut berada di Eropa Tengah. Hingga pertengahan 2012 lalu masih merupakan salah satu spot dunia yang memiliki kehidupan tenang dan damai. Tapi awal 2014, hanya sekitar 18 bulan, tiba-tiba berubah menjadi satu negara kacau di permukaan bumi.

Nyawa manusia bisa hilang dengan mudah oleh sesuatu yang tidak jelas alasannya.

Jika di musim panas 2012 Ukraina menjadi negara yang banyak dikunjungi wisatawan, antara lain untuk menyaksikan final kejuaraan sepakbola Piala Eropa, awal tahun ini, Ukraina menjadi wilayah panas, paling berisiko untuk dikunjungi.

Bahkan orang Ukraina pun berusaha kabur dari negeri mereka. Demikian berbahayanya kehidupan di Ukraina sehingga liga sepakbolanya yang banyak melahirkan pemain-pemain kelas dunia, tak bisa digelar. Ditunda entah sampai kapan.

Krisis Ukraina yang diawali oleh perseteruan antara elit politik, berubah menjadi perebutan kekuasaan. Presiden Viktor Yanukovych yang berkuasa sejak 2010 pada 22 Februari 2014 dilengserkan oleh parlemen.

Pemicunya berawal pada November 2013. Terjadi perdebatan sengit di kalangan politisi. Antara mereka yang pro bergabung dengan Uni Eropa dan yang ingin berafiliasi dengan Rusia, bekas pecahan Uni Soviet.

Mayoritas rakyat Ukraina memang ingin bergabung dengan Uni Eropa. Tetapi sebagian kecil yang merasa tidak nyaman. Mereka yang tidak merasa nyaman, sekalipun masuk kategori minoritas, tetap kelompok itu tetap punya pengaruh. Di antaranya Presiden Viktor Yanukovych. Sehingga kekuatan mayoritas tidak serta mengalahkan minoritas.

Ketidaksetujuannya inilah yang mendorong oposisi melancarkan demonstrasi dan penggembosan yang berujung pada penggulingan Presiden Yanukovych oleh parlemen pada Sabtu 22 Februari 2014.

Presiden Vicktor Yanukovych yang dikenal dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, punya alasan untuk membawa Ukraina bergabung dengan Rusia. Sebab Ukaina sesungguhnya banyak bergantung pada bantuan Rusia.

Tapi sejarah juga menunjukkan ketika Nazi berkuasa di Jerman, banyak warga Ukraina yang menjadi kolaborator Nazi. Dan warga yang dimaksud pada umumnya beretnik Rusia. Inilah yang tidak dikehendaki oleh mayoritas Ukraina - jika negara tersebut bergabung dengan Rusia.

Sebetulnya masalah pengaruh Nazi, bukan sebuah isu yang paling menentukan. Masalahnya tak akan menjadi sesuatu yang penting kalau Presiden Viktor Yanukovych memerintah Ukraina secara normatif.

Persoalannya berbelok. Isu bergabung tidaknya dengan Uni Eropa menjadi isu hangat karena Yanukovych terang-terangan menolak gagasan tersebut.

Imbas Terhadap Dunia

Cepat atau lambat, besar atau kecil, imbasnya bakal dirasakan oleh dunia termasuk Indonesia sebagai bagian dari komunitas dunia. Apalagi dalam beberapa hal, yang dihadapi Ukraina mirip dengan situasi yang dihadapi Indonesia.

Seperti kerancuan dalam sistem politik dan merajalelanya korupsi. UU yang ada tidak memungkinkan seorang Presiden atau Perdana Menteri mampu memerintah secara kuat, berwibawa sebagaimana seharusnya.

Hal ini terjadi antara lain, karena masa transisi dari sistem otoriter ke demokrasi liberal belum lagi selesai. Adaptasi pada sistem politik yang baru belum lancar, korupsi sudah merajalela.

Korupsi di kalangan elit, antara lain 'dipelopori' oleh para elit pemimpin. Seperti Presiden dan Perdana Menteri. Periode sebelumnya Perdana Menteri Yulia Tymoshenko terlibat skandal korupsi raksasa.

Pada 2011 wanita pertama Ukraina yang menjadi Perdana Menteri itu dijatuhi hukuman penjara 7 tahun dan diharuskan membayar ke negara uang sejumlah US$188 juta. Kini Presiden (terguling) Viktor Yanukovych sedang dikejar-kejar sekalipun belum tahu berapa besar dana negara yang dikorupsinya.

Kemerdekaan Ukraina di 1991, hampir sama dengan karakter lahirnya reformasi di Indonesia. Dari sistem totaliter komunis ala Uni Sovyet menjadi negara demokratis ala Barat. Reformasi di Indonesia juga kurang lebih sama. Lahir dari rezim totaliter militeristik menjadi negara paling demokratis di Asia Tenggara.

Ternyata kemerdekaan, tidak segera menjadikan bangsa Ukraina terbebas dari belenggu keterpurukan. Reformasi di Indonesia juga justru ikut membawa Indonesia ke ruang keterpurukan.

Krisis Ukraina, negara berpenduduk 45 juta jiwa itu, bereskalasi dengan cepat. Tanpa didahului semacam pra kondisi, krisis Ukraina, tiba-tiba sudah mengundang keterlibatan Rusia dan Amerika Serikat.

Dampak dan efek domino keterlibatan kedua negara ini patut diantisipasi. Sebab bukan mustahil keadaan Ukraina bertambah runyam. Terbentuklah sebuah arena pertarungan langsung antara kekuatan yang memiliki persenjataan pemusnah, Rusia dan Amerika Serikat.

Mengapa demikian?

Dua negara ini dikenal pernah bermusuhan selama hampir satu abad. Keduanya baru 'berdamai' setelah Uni Sovyet pecah menjadi beberapa negara pada 1990. Dalam referensi umum, Uni Sovyet digantikan Rusia.

Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin, merupakan anggota KGB (dinas rahasia) di era Uni Sovyet. KGB merupakan saingan utama agen intelejens Amerika Cerikat, CIA. Persaingan antara agen CIA dengan agen Rusia, masih berlangsung. 

Hingga sekarang label Vladimir Putin sebagai penerus legacy KGB, masih terus melekat. Sebab Putin tidak pernah membantah apalagi mengeleminirnya.

Sekalipun Rusia dan Amerika Serikat sudah berdamai, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, perdamaian mereka belum bisa disebut sebagai sesuatu yang permanen. (*ini)


Krisis Ukraina Bakal Picu Perang Dunia ke-3 ?


Rusia tidak lagi identik dengan Uni Soviet. Rusia sudah bergabung dalam Kelompok Delapan (Group of Eight/G-8) bersama Amerika Serikat. Sesuatu yang tidak terjadi di era Uni Soviet.

Rusia dan Amerika Serikat juga sama-sama anggota APEC (Asia Pacific Economic Cooperation). Keduanya juga anggota Kelompok Duapuluh (Group of Twenty/G-20). Rusia juga tidak lagi berstatus negara komunis. Pemeluk agama, bebas melaksanakan ibadahnya.

Jika ini yang menjadi ukuran, antara Rusia dan Amerika Serikat tak akan ada permasalahan. Namun kenyataannya tidak demikian. Di APEC dan G-8, Rusia dan Amerika Serikat saling menyabot.

Pada KTT APEC 2013 di Vladivostok, Presiden Obama absen. Ketidakhadiran Obama di KTT Vladivostok sebagai balasan atas ketidak hadiran Presiden Vladimir Putin di KTT G-8 di Camp David pada tahun yang sama.

Dalam banyak hal sisa-sisa permusuhan Rusia dengan Amerika Serikat masih dilanjutkan atau berlanjut. Keputusan Rusia membentuk blok BRIC (Brazil, Rusia, India, China) di 2009 yang tujuan utamanya menghapus mata uang dolar Amerika Serikat sebagai alat tukar resmi di perdagangan internasional, merupakan bukti berlanjutnya permusuhan Rusia dan Amerika Serikat.

Pada 2011, BRIC berubah menjadi BRICS, setelah South Africa, Afrika Selatan bergabung. Bergabungnya Afrika Selatan membuat BRICS yang dimotori Rusia, bertambah kuat sebagai sebuah blok yang berseberangan dengan Amerika Serikat. Hal ini semakin menandai berlanjutnya konkurensi Rusia dan Amerika Serikat.

Begitu juga, keinginan Rusia untuk mengembosi badan dunia seperti IMF (International Monetary Fund - Dana Moneter Internasioal) dan World Bank (Bank Dunia). Dan yang hangat saat ini, keinginan Rusia menjadikan Ukraina sebagai salah satu blok ekonominya. Untuk tujuan itu Rusia menawarkan bantuan US$15 miliar bagi reformasi ekonomi Ukraina.

Sementara Amerika Serikat yang memiliki perjanjian militer Atlantik Utara (NATO/North Atlantic Treaty Organization) dengan sejumlah negara Eropa Barat, juga melakukan hal yang serupa. Jumlahnya jauh lebih kecil, hanya US$1 miliar. Tapi nilainya bisa bertambah besar dan bisa melebihi bantuan Rusia, apabila digabungkan dengan tawaran bantuan 28 negara anggota Uni Eropa.

Jadi untuk mendapatkan bantuan lebih besar, Amerika Serikat berharap Ukraina bergabung dengan Uni Eropa, sebuah pasar sekaligus komunitas global yang penduduknya mencapai 510 juta jiwa.

Bantuan berskala besar dari Rusia sangat beralasan. Karena di Krimea salah satu provinsi bagian Selatan Ukraina, Rusia masih menempatkan pangkalan militernya. Di Sevastopol, kota pelabuhan Laut Mati, Rusia menempatkan sejumlah kapal induknya termasuk kapal-kapal selam bertenaga nuklir.

Kehadiran pangkalan militer Rusia di Ukraina, walaupun tidak dipersoalkan secara terbuka, tetapi menjadi sebuah gangguan bagi Amerika Serikat. Terutama ketika sudah berbicara soal persaingan dalam persenjataan dan keunggulan teknologi dengan Rusia.

Amerika Serikat tak akan pernah merasa tenang dengan kehadiran pangkalan militer Rusia di Ukraina. Tetapi Washington juga tidak punya alasan kuat untuk mengusir. Karena Ukraina merupakan sebuah negara berdaulat.

Tapi munculnya krisis Ukraina dimana Rusia melakukan invasi ke negara tetangga itu bisa dijadikan alasan Amerika Serikat. Sama dengan yang dilakukan Amerika Serikat di Kuwait, ketika pasukan Saddan Husein, Irak menginvasi negeri liliput tersebut.

Oleh sebab itu kekhawatiran munculnya perang baru antara Rusia dan Amerika Serikat, masuk akal. Lokasinya, yah di Ukraina. Kalau itu terjadi, kawasan yang paling cepat terimbas, seluruh wilayah Eropa. Sekali sebuah perang meletus di Eropa. imbasnya akan ke seluruh dunia.

Umat manusia kembali berada dalam ancaman peperangan, perang dunia baru, sebuah perang dahsyat yang sejatinya - pada awal mula hanya dipicu oleh pertentangan elit politik.


Fenomena Langka, Aurora Borealis Di Langit Inggris

Cahaya warna-warni aurora borealis terlihat di atas langit kawasan Cumbria, Inggris (27/2). Peristiwa alam langka yang terjadi karena gerekan partikel matahari yang memasuki atmosfer bumi. REUTERS/Jonathan Cooper

Fenomena Langka,  Aurora Borealis Hiasi Langit Inggris
Seorang warga berpose di bawah langit yang dihiasi aurora borealis di Teluk Embleton di Northumberland, Inggris (27/2). (AP Photo / Tom White, PA)

Fenomena Langka,  Aurora Borealis Hiasi Langit Inggris
Aurora Borealis mempercantik pemandangan Monumen Perang Stonehaven di Aberdeen, Skotlandia. Cahaya unik yang biasanya terjadi di kawasan Artik dan Kutub ini muncul selama beberapa jam di Inggris dan Skotlandia. Dailymail.co.uk

Fenomena Langka,  Aurora Borealis Hiasi Langit Inggris
Aurora Borealis juga muncul di salah satu tempat wisata di Sycamore Gap, Hadrian's Wall, Inggris. Dailymail.co.uk

Fenomena Langka,  Aurora Borealis Hiasi Langit Inggris
Suasana saat kemunculan aurora borealis di atas langit Teluk Embleton di Northumberland, Inggris (27/2). Cahaya ini menghilang saat memasuki waktu subuh. (AP Photo / Tom White, PA)

Fenomena Langka,  Aurora Borealis Hiasi Langit Inggris
Sejumlah warga menikmati langit yang dihiasi cahaya Aurora Borealis di dekat Mercusuar St. Mary's di Teluk Whitely, Newcastle, Inggris. Dailymail.co.uk


FOTO: Yang Unik di China! Membaca Terlalu Dekat, Siswa Sekolah di China Pakai Pembatas


Sebuah sekolah di China menerapkan solusi kreatif untuk mencegah siswa sekolah dasar membaca terlalu dekat dengan buku-buku mereka.

Sekolah dasar Zhanglin di provinsi Hubei, China, menarik perhatian dunia pendidikan di China, karena sekolah tersebut membuat sebuah pembatas yang terbuat dari logam di setiap meja para siswa untuk mencegah mereka membaca dengan jarak yang tertalu dekat.





Kepala Sekolah, Zhang Jianming, menjelaskan bahwa pembatas itu akan digunakan untuk membatasi jarak pandang siswa agar tidak terlalu dekat dengan buku dan alat sederhana ini dapat membentuk kebiasaan membaca yang baik.

Seperti dilansir Stomp, Kamis (27/2/2014), alat pembatas ini juga mengharuskan anak-anak tersebut memegang buku mereka ketika sedang membaca. Alat yang unik ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali peraturan jarak membaca pada anak di China.