Video ‘Debat Bahasa Inggris Gubernur Jokowi VS Jenderal Prabowo’ yang Bikin Heboh!


Majunya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres, nampaknya masih menimbulkan kekecewaan bagi sebagian masyarakat. Mereka berharap Jokowi bisa menuntaskan masa jabatanya sebagai pemimpin di Jakarta.

Kekecewaan itu pun disampaikan melalui banyak cara, salah satunya melalui jejaring sosial. Setelah sempat muncul beberapa foto yang diedit, yang menunjukkan sikap tidak mendukung majunya Jokowi sebagai capres, kali ini muncul video yang diunggah di jejaring sosial Youtube.

Dalam video berjudul "Debat Bahasa Inggris Gubernur Jokowi VS Jenderal Prabowo" itu, seolah ingin mengingatkan bahwa Jokowi pernah mengatakan tidak memikirkan akan maju sebagai capres, dan memilih fokus untuk bekerja sebagai gubernur.

Video itu menampilkan Jokowi yang sedang diwawancara oleh seorang reporter wanita dari stasiun televisi asing. Video ini kemungkinan direkam saat Jokowi belum diperintahkan untuk maju sebagai capres oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Sebab saat ditanya oleh reporter itu mengenai kabar jika ia akan maju sebagai capres, dengan terbata-bata Jokowi berkali-kali hanya menjawab "I don't think about that". Begitu pun saat ditanya apa yang ingin dilakukan jika ia akhirnya menjadi capres.

Namun demikian, banyak juga pengguna jejaring sosial yang mengatakan jika video itu menampilkan perbandingan kemampuan bahasa Inggris antara Jokowi dengan Prabowo. Sebab di bagian akhir video itu, menampilkan Prabowo yang fasih menjelaskan visi misinya sebagai seorang presiden.

Video itu mengundang banyak komentar dari masyarakat. Sebagian ada yang membela Jokowi dan sebagian lagi ada yang membela Prabowo. (*inl)



Jokowi: “Saya Islam Rahmatan lil'alamin, Yang memegang teguh UUD 45 dan Bhinneka rahmat dari Tuhan”


CALON presiden yang diusung PDI Perjuangan, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI, Joko Widodo atau Jokowi, menegaskan dirinya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam.

Dirinya pun menyatakan bukan bagian dari Islam yang menciptakan perang bagi sesama Islam. Dirinya juga menyatakan bukan bagian dari Islam penebar teror dan kebencian.

"Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengkafirkan saudaranya sendiri," ujarnya.

Jokowi yang kerap dituduh anti-Islam pun mengatakan, "Semua orang boleh ragu dengan agamaku tapi saya tidak ragu dengan iman dan imamku dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agamaku," ujarnya Jokowi.

Jokowi juga mengatakan dirinya bukan bagian dari segelintir Islam yang menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban.

"Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain. Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang ditangan dan dimulut. Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustunnya," ujarnya.

Jokowi juga membantah tuduhan antek Zionis, Amerika, Tiongkok dan mafia.

"Jokowi antek Pancasila dan antek rakyat," kata Jokowi dalam keterangan persnya, pada Sabtu (24/5/2014), dikutip Tribunnews.

"Saya Jokowi bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di Negara RI yang memegang teguh UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan," timpalnya. (*sumber:tribunnews)

Jokowi: “Saya Islam Rahmatan lil'alamin, Yang memegang teguh UUD 45 dan Bhinneka rahmat dari Tuhan”


CALON presiden yang diusung PDI Perjuangan, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI, Joko Widodo atau Jokowi, menegaskan dirinya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam.

Dirinya pun menyatakan bukan bagian dari Islam yang menciptakan perang bagi sesama Islam. Dirinya juga menyatakan bukan bagian dari Islam penebar teror dan kebencian.

"Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengkafirkan saudaranya sendiri," ujarnya.

Jokowi yang kerap dituduh anti-Islam pun mengatakan, "Semua orang boleh ragu dengan agamaku tapi saya tidak ragu dengan iman dan imamku dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agamaku," ujarnya Jokowi.

Jokowi juga mengatakan dirinya bukan bagian dari segelintir Islam yang menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban.

"Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain. Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang ditangan dan dimulut. Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustunnya," ujarnya.

Jokowi juga membantah tuduhan antek Zionis, Amerika, Tiongkok dan mafia.

"Jokowi antek Pancasila dan antek rakyat," kata Jokowi dalam keterangan persnya, pada Sabtu (24/5/2014), dikutip Tribunnews.

"Saya Jokowi bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di Negara RI yang memegang teguh UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan," timpalnya. (*sumber:tribunnews)


Jokowi: “Saya Islam Rahmatan Lil Alamin, Yang memegang teguh UUD '45 dan Bhinneka rahmat dari Tuhan”


CALON presiden yang diusung PDI Perjuangan, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI, Joko Widodo atau Jokowi, menegaskan dirinya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam.

Dirinya pun menyatakan bukan bagian dari Islam yang menciptakan perang bagi sesama Islam. Dirinya juga menyatakan bukan bagian dari Islam penebar teror dan kebencian.

"Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengkafirkan saudaranya sendiri," ujarnya.

Jokowi yang kerap dituduh anti-Islam pun mengatakan, "Semua orang boleh ragu dengan agamaku tapi saya tidak ragu dengan iman dan imamku dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agamaku," ujarnya Jokowi.

Jokowi juga mengatakan dirinya bukan bagian dari segelintir Islam yang menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban.

"Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain. Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang ditangan dan dimulut. Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustunnya," ujarnya.

Jokowi juga membantah tuduhan antek Zionis, Amerika, Tiongkok dan mafia.

"Jokowi antek Pancasila dan antek rakyat," kata Jokowi dalam keterangan persnya, pada Sabtu (24/5/2014), dikutip Tribunnews.

"Saya Jokowi bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di Negara RI yang memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan," timpalnya. (*sumber:tribunnews)


Lain dulu Lain sekarang, JK Jilat Ludah Sendiri?


KETIKA belum dipilih menjadi pendamping Capres Joko Widodo (Jokowi), Jusuf Kalla begitu gencar mengkritik kinerja mantan Wali kota Solo itu sebagai Gubernur DKI Jakarta.

JK menyatakan, Jokowi belum memiliki bukti sukses sehingga tidak pantas untuk maju capres 2014. Rupanya, sikap itu berubah ketika Jokowi memilih JK sebagai Cawapres 2014.

Sikap plin-plan ini, menurut Kordinator Aliansi Ormas dan LSM (AOM) Jawa Timur Irwanto tidak mencerminkan sosok JK adalah seorang negarawan.

Ia menganggap, pernyataan JK itu tidak konsisten. "Saya menganggap JK ibaratnya menjilat ludah sendiri. JK dulu dengan sekarang berbeda," ujarnya.

Mantan Aktivis 98 ini mengaku mengagumi JK dengan sosok kenegarawannya. Namun, ketika sikap tersebut berubah ia mengaku tidak simpatik lagi. Sepertinya ada ambisi untuk berkuasa lagi. Nah, sikap tersebut tidak mencerminkan sosok negarawan sejati.

"Berbeda ketika belum dipinang sebagai Cawapres. Pak JK dengan tegas memberikan kritik-kritik keras terhadap kinerja Jokowi ketika menjabat sebagai Gubernur DKI."

"Pak JK pernah mengatakan "Jangan berpikir dulu jadi presiden". Karena masyarakat mendukung itu baru dalam tahap harapan, nah harapannya itu harus dibuktikan," ujar Irawanto menirukan pernyataan JK.

Ia juga meminta kepada masyarakat Indonesia sebagai penentu pemimpin masa depan untuk memberikan pilihan secara cerdas. Artinya, tidak tertipu dengan pencitraan-pencitraan para calon. Selain itu, juga mengajak untuk berifikir siapa negarawan yang layak untuk memimpin bangsa ini dalam lima tahun kedepan.

"Ada dua pasangan ini. Silahkan dipilih mana yang mampu membawa arah bangsa ini lebih maju. Yang jelas jangan Golput saat pilpres nanti," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara khusus dengan Okezone, (27/3/13), JK menyatakan kepada Gubernur DKI Jakarta, Jokowi untuk tidak berpikir capres.

"Jangan berpikir dulu jadi presiden. Karena masyarakat mendukung itu baru dalam tahap harapan, nah harapannya itu harus dibuktikan," kata JK.

Kata JK, Jokowi dihargai lalu didukung jadi calon presiden bukan karena bukti bahwa kinerjanya membangun Ibu Kota sukses. "Macet masih macet, banjir masih banjir, kumuh masih. Belum ada buktinya sukses," tegasnya.

Mantan menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat itu mengatakan, jika Jokowi terpengaruh dengan desakan untuk jadi calon presiden, maka ketika tidak berhasil mantan walikota Solo itu akan merasakan sakit luar biasa.

"Jadi sabar untuk membuktikan," ungkapnya. "Saya yang mengajak Jokowi ke Jakarta. Saya punya harapan pada dia, kalau dia terlalu cepat bergeser banyak orang yang kecewa, nanti orang menyalahkan saya," tambahnya. (*okzone)