Wacanakan ‘Bengkulu Merdeka’ pisah dari NKRI, Gubernur Bengkulu dikecam


Isu Bengkulu merdeka atau pembentukan Negara Bengkulu terpisah dari NKRI yang dilontarkan Gubernur Junaidi Hamsyah, Sabtu (31/5), menjadi bola panas. Pernyataan tersebut panen kecaman.

Gubernur Junaidi membuat pernyataan mengejutkan saat pembukaan Seminar Nasional Kebangsaan di Hotel Grage Horizon, Sabtu (31/5). Gubernur Junaidi sempat menyinggung-nyinggung soal pembentukan negara baru, pisah dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Menurut Gubernur, Bengkulu merdeka merupakan wujud kekecewaan atas ketimpangan kue pembangunan (dana APBN) yang dikucurkan oleh pemerintah pusat ke Bengkulu. Entah bermaksud serius atau sekedar sentilan, namun pernyataan menyinggung-nyinggung "merdeka" di forum resmi tersebut tak urung menyita perhatian ratusan peserta seminar.

"Saya menilai belum adil atas kue pembangunan di Bengkulu. Kalau dua pimpinan (Presiden dan Wapres) sudah datang tidak juga kebagian, saya tidak tahu lagi. Mungkin kami akan buat negara Bengkulu," gertak Gubernur Junaidi Hamsyah.

Panen Kecaman

Sejumlah tokoh dari pusat dan daerah menyayangkan isu Bengkulu Merdeka tersebut dilontarkan oleh seorang Gubernur. Kecaman antara lain datang dari putri Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani yang masih berdarah Bengkulu, praktisi hukum H. Azi Ali Tjasa, SH, MH, sesepuh Bengkulu yang juga mantan wakil gubernur (Wagub) Bengkulu, Brigjen TNI Purn Iskandar Ramis, M.Si. Sebelumnya, Ketua Fraksi Demokrat di MPR RI Jafar Hafsah juga mengkritik dicuatnya isu Bengkulu Merdeka tersebut.

Pernyataan keras disampaikan Azi Ali Tjasa, SH, MH yang menyebut pernyataan Junaidi berbahaya dan berbau provokatif yang bisa memicu tindakan Makar sebagaimana diatur Pasal 160 KUHP.

"Saya terkejut dan amat menyesalkan pernyataan Gub Bengkulu Ustad Junaidi Hamsyah," kata Ali Tjasa dalam pernyataan tertulisnya kepada RB.

Ali Tjasa yang dilahirkan dan dibesarkan di kalangan veteran pejuang menyebut pernyataan mengenai Bengkulu Merdeka sangat sensitif. Oleh karenanya tidak pantas dan tabu dilontarkan oleh seorang pemimpin seperti Gubernur.

"Ucapan Gubernur itu cukup berbahaya dan dapat memicu tindakan Makar dengan maksud memisahkan sebagian wilayah Negara dari keutuhan NKRI yang termasuk Bengkulu adalah bagiannya. Secara yuridis jika benar ucapan Gubernur maunya Bengkulu merdeka sebagai negara baru sudah dapat dikategorikan sebagai tindakan provokatif memicu tindak pidana kejahatan Makar seseuai Pasar 160 KUHP diancam pidana penjara seumur hidup," tegas Azi Ali Tjasa.

Mencuatnya isu Bengkulu Merdeka yang dilontarkan seorang Gubernur, membuat Azi Ali Tjasa prihatin dan miris. Dia mengharapkan agar masyarakat tidak terprovokasi oleh wacana tersebut, lebih-lebih kepada pelajar dan mahasiswa diminta untuk tidak mengubrisnya.

"Tidak ada kata lain bahwa bahwa NKRI, Pancasila, Merah-Putih, dan Bhinneka Tunggal Ika itu sudah final dan harga mati. Itulah warisan paling berharga buat bangsa dan negara ini selamanya sebagai hasil perjuangan dan pengorbanan baik harta, darah, dan nyawa para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia yang diridhoi Allah SWT," katanya.

Ia juga mengharapkan agar Junaidi Hamsyah meralat ucapan dan wacana tersebut dan meminta maaf kepada rakyat Indonesia serta mohon ampun kepada Allah SWT. Terlebih lagi dalam rangka memperingati Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juni.

"Hendaknya lebih mengajak segenap rakyat Bengkulu untuk mempelajari kembali, memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," demikian Al Tjasa.

Pada acara peringatan Hari Lahirnya Pancasila, Minggu (1/6) di Bengkulu, Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah dalam sambutannya mengatakan selama dua hari terakhir, dirinya sengaja melontarkan kritikan keras kepada pejabat pusat. Menurutnya, itu demi pembangunan Bengkulu.

Tidak pantas

Hal senada juga disampaikan oleh mantan Wakil Gubernur (Wagub), Brigjend. TNI. (Purn), H. Iskandar Ramis juga menyayangkan pernyataan Gubernur Junaidi Hamsyah. Iskandar Ramis salah satu pemateri yang hadir dalam seminar nasional Sabtu lalu.

"Tidak sepantasnya itu dikatakan. Kalaupun guyon, jangan kearah ke sana. Karena kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Salah satu butir dalam Pancasila yakni persatuan dan kesatuan. Bukan arahnya memisahkan diri dengan memerdekakan. Saya terus terang saja, menyesalinya," kritik Iskandar Ramis.

Menurutnya dalam seminar yang dihadiri oleh sejumlah pejabat penting di pusat kemarin, mengangkat soal kepemimpinan nasional. Sehingga gubernur tidak perlu banyak mengeluhkan soal anggaran. Padahal bisa jadi anggaran yang dikucurkan minim itu, karena tidak mengerti prosedur administrasi nasional.

Dia juga berpendapat, bahwa triluan anggaran yang dikucurkan untuk Bengkulu tidaklah artinya juga dibandingkan dengan menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. "Walaupun guyonan, saya kira kurang tepat masalah persatuan. Kalaupun mau guyon, boleh tapi kearah lain. Pancasila tidak boleh dibuat main-main," kata Iskandar Ramis.

Apalagi pernyataan Gubernur Junaidi mendapat koreksi dari berbagai kalangan. Seperti dari Ketua Fraksi Demokrat MPR RI, Jafar Hafsah.

"Sebagai warga negara dan warga Bengkulu, saya malu orang penting di Bengkulu ngomong seperti itu. Kita selama ini menggembor-gemborkan NKRI harga mati. Jadi keliru sekali," tukas Iskadar Ramis.

PDI-P Meradang

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI-P, Puan Maharani mengatakan, tidak selayaknya ancaman membentuk negara baru disampaikan seorang Gubernur dalam forum seminar nasional kebangsaan. Seperti diketahui seminar dengan tema "Kepemimpinan Nasional dan Demokrasi Kita dalam Bingkai NKRI" itu diselenggarakan oleh MPR RI dalam rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni.

"Seharusnya gubernur tidak pada tempatnya mengatakan hal tersebut. Indonesia adalah bagian NKRI. Kalau gubernur saja mengancam pemerintahan kita dalam tanda kutip, walaupun hanya wacana, itu tidak boleh dilakukan seorang pemimpin di daerah. Inikan gubernur adalah pemimpin dalam satu provinsi," kritik Puan Maharani yang ditemui wartawan usai mengunjungi rumah pengasingan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno yang tak lain kakeknya, Minggu (1/6).

Menurutnya walaupun gubernur kecewa dengan pemerintah pusat karena merasa pembagian "kue" anggaran pembangunan untuk Bengkulu selama ini tidak adil, maka tidak mesti harus mengancam membentuk negara baru. Menurutnya persoalan minimnya anggaran yang diperoleh dapat diselesaikan secara baik-baik, dengan mengkomunikasikannya ke pemerintah pusat.

"Kalau ada kekecewaan, ya itu harus diselesaikan secara baik ke pemerintah pusat. Tapi tidak sepantasnya bicara seperti itu. Bayangkan saja kalau seorang kepala daerah dalam kekecewaannya mengatakan provinsi dan kabupaten merdeka. Apa yang akan terjadi dengan republik ini kedepan?," ungkap Puan yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan itu.

Selama ini, para pejuang Indonesia, terutama Presiden RI pertama, Bung Karno terus memperjuangkan agar menjaga stabilitas NKRI. "Kita mati-matian berjuang, adalah menginginkan NKRI. Termasuk dalam 4 pilar kebangsaan," tukas Puan.

Jadi perkataan memisahkan diri dari NKRI seyogyanya tidak boleh keluar dari kepala daerah, walaupun hanya untuk guyonan atau bercanda. 

"Kecewa ingin merdeka, kepala pemerintahan tingkat provinsi membawahi rakyat di provinsinya, tidak boleh. Dalam seloroh juga tidak pantas mengatakan seperti itu," kata Puan. 

Gubernur Minta Maaf

Namun, dua hari berselang, senin (2/6) Gubernur Junaidi sempat menyampaikan permintaan maaf terkait pernyataannya itu kepada pemerintah pusat.

"Maafkan saya kalau sejak dari seminar kemarin, dan sambutan tadi malam saya bicara keras kepada lembaga tinggi negara, dan pejabat penentu kebijakan di RI. Saya lebih suka bicara keras kepada pejabat penentu kebijakan, daripada saya dieluh-eluhkan oleh masyarakat Bengkulu. Biarlah saya tidak mengeluh-eluhkan, asalkan pembanguan mengucur ke Bengkulu ini," ungkap Junaidi.

Menurutnya Bengkulu membutuhkan perhatian pemerintah pusat. Seperti pembangunan jalan nasional Bengkulu – Lubuk Linggau, pembangunan jalur lintas barat Sumatera, Bengkulu – Lampung dan Bengkulu- Sumbar. Untuk jalur laut, yani pengembangan Pelabuhan Pulau Baai. (*bengkuluexpres)

Diserang Kubu Prabowo: 12 Alasan Tidak Pilih Jokowi


Eks Menkeu sekaligus eks politisi Partai Hanura Fuad Bawazier membeberkan alasan tidak memilih Joko Widodo sebagai calon presiden. Setidaknya ada 12 alasan dirinya tidak pilih Jokowi.

"Kenapa kita tidak pilih Jokowi. Pertama, tidak tegas. Kedua, disetir banyak pihak seperti Bu Mega, PDIP dan konglomerat hitam penyandang dana," ujar pendukung Prabowo-Hatta, Fuad Bawazier lansir Aktual.co, Senin (2/6).

Fuad Bawazier
Ketiga, Jokowi tidak punya konsep dan ide-ide yang jelas, apalagi bila harus berhadapan dengan pihak asing.

"Keempat, Jokowi tidak bisa bahasa Inggris. Keliima, tidak menepati janji jabatan. Tidak selesai menjalankan jabatannya sebagai Walikota Solo (padahal sudah disumpah), dan tidak selesaikan jabatan Gubernur DKI, kini mau nyapres," tambahnya.

Masih kata Fuad, keenam, Jokowi kurang pengalaman dan lemah wawasan nusantaranya. Ketujuh, Jokowi lebih menonjolkan dirinya sebagai "orang sederhana", padahal yang kita cari pemimpin.

"Orang yang lebih sederhana dari Jokowi sudah ada ratusan juta jiwa. Justru mereka yang harus diangkat agar meningkat kehidupannya," tegasnya.

Kedelapan, kalaupun Jokowi menang, pemerintahannya tidak akan stabil sebab dukungannya di DPR hanya 37 persen, sementara kalau Pabowo didukung 63 persen.

"Sembilan, kemungkinan Jokowi terlibat kasus korupsi Bus TransJakarta," kata Fuad lagi.

Sepuluh, peran asing di Indonesia akan menguat dan BUMN/BUMD/aset negara banyak dijual lagi. Sebelas, utang luar negeri akan meningkat terus sesuai saran asing dan Bank Dunia.

"Terakhir, Jokowi adalah tokoh karbitan media yang belum siap alias belum matang untuk jadi presiden," tuntas Fuad. (*

Pemerintahan Bersatu Palestina Terbentuk, Israel Meradang


Pemerintah bersatu Palestina yang baru telah terbentuk dan dilantik. Hal ini menandai langkah kunci untuk mengakhiri keretakan besar antara faksi-faksi di Tepi Barat dan Gaza. Presiden Palestina Mahmoud Abbas memuji hal tersebut.

"Halaman hitam dalam sejarah telah berubah selamanya," kata Abbas seperti dikutip BBC, Senin (6/2/2014).

Kedua belah pihak, Hamas dan Fatah yang terpisah sejak Hamas memenangkan pemilihan umum pada tahun 2006 dan digulingkan Fatah dari Gaza pada 2007. Keduanya kini bersatu.

Bersatunya dua faksi tersebut membuat Israel geram. Israel mengatakan tidak akan berurusan dengan pemerintah Palestina yang didukung oleh Hamas, yang bersumpah menghancurkan Israel .

Israel menghentikan perundingan damai yang dilanda krisis dengan Palestina pada April 2014 lalu dalam menanggapi pengumuman kesepakatan rekonsiliasi.

Hamas yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel dan negara-negara lain menentang pembicaraan damai. Meskipun Presiden Abbas mengatakan pemerintah baru akan mematuhi kesepakatan sebelumnya.

17 Menteri

Pemerintah baru terdiri dari 17 menteri independen dan akan bertugas mengorganisir pemilu yang akan diadakan dalam waktu 6 bulan. Ini dipimpin oleh Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah .

Para menteri mengambil sumpah jabatan dalam sebuah upacara yang disiarkan televisi di kompleks Presiden Abbas di Ramallah .

"Hari ini, dengan pembentukan pemerintah konsensus nasional, kami mengumumkan akhir dari sebuah divisi Palestina yang telah merusak nasional kita," kata Presiden Abbas .

"Halaman hitam ini dalam sejarah telah berubah selamanya."

Tiga pejabat baru yang tinggal di Gaza tak diizinkan oleh Israel menyeberang ke Tepi Barat untuk mengikuti pelantikan tersebut.

Israel ketat mengontrol bagi orang yang keluar Gaza ke wilayahnya sebagai bagian dari apa yang disebutkan keamanan untuk mencegah serangan.

Peringatan Israel

Keputusan Presiden Abbas untuk rekonsiliasi dengan Hamas telah dikecam oleh Israel . Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mendesak para pemimpin dunia untuk tidak terburu-buru untuk mengakui pemerintah baru .

"Hamas adalah organisasi teroris yang menyerukan penghancuran Israel, dan masyarakat internasional tidak harus menerimanya. Itu tidak akan mendukung perdamaian. Itu akan memperkuat teror," kata Netanyahu dalam pertemuan kabinet pada hari Minggu .

Israel mengatakan akan menghentikan semua hal itu. Sementara AS yang telah mensponsori pembicaraan damai Israel-Palestina menyatakan keprihatinannya atas peran Hamas dalam pemerintahan baru ini.

Dalam pembicaran telepon dengan Presiden Abbas, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan pemerintah baru harus berkomitmen untuk prinsip-prinsip non-kekerasan , pengakuan Negara Israel, dan penerimaan dari perjanjian sebelumnya dengan itu.


Ketika Hamas dan Fatah membentuk pemerintahan koalisi pada 2006, negara-negara AS dan Barat lainnya menahan bantuan yang jumlahnya jutaan dolar kepada Palestina karena partisipasi Hamas.

Pemerintah pimpinan Hamas dibubarkan Presiden Abbas pada Juni 2007 dalam langkah yang tidak diakui oleh Hamas. Pembubaran itu sehari setelah pasukan Hamas digulingkan Fatah dari Jalur Gaza.

Hamas telah terus memerintah Gaza sementara Otoritas Palestina di bawah Presiden Abbas memerintah Tepi Barat. (*reuters/lip6)

Pemerintahan Bersatu Palestina Terbentuk, Israel Meradang


Pemerintah bersatu Palestina yang baru telah terbentuk dan dilantik. Hal ini menandai langkah kunci untuk mengakhiri keretakan besar antara faksi-faksi di Tepi Barat dan Gaza. Presiden Palestina Mahmoud Abbas memuji hal tersebut.

"Halaman hitam dalam sejarah telah berubah selamanya," kata Abbas seperti dikutip BBC, Senin (6/2/2014).

Kedua belah pihak, Hamas dan Fatah yang terpisah sejak Hamas memenangkan pemilihan umum pada tahun 2006 dan digulingkan Fatah dari Gaza pada 2007. Keduanya kini bersatu.

Bersatunya dua faksi tersebut membuat Israel geram. Israel mengatakan tidak akan berurusan dengan pemerintah Palestina yang didukung oleh Hamas, yang bersumpah menghancurkan Israel .

Israel menghentikan perundingan damai yang dilanda krisis dengan Palestina pada April 2014 lalu dalam menanggapi pengumuman kesepakatan rekonsiliasi.

Hamas yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel dan negara-negara lain menentang pembicaraan damai. Meskipun Presiden Abbas mengatakan pemerintah baru akan mematuhi kesepakatan sebelumnya.

17 Menteri

Pemerintah baru terdiri dari 17 menteri independen dan akan bertugas mengorganisir pemilu yang akan diadakan dalam waktu 6 bulan. Ini dipimpin oleh Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah .

Para menteri mengambil sumpah jabatan dalam sebuah upacara yang disiarkan televisi di kompleks Presiden Abbas di Ramallah .

"Hari ini, dengan pembentukan pemerintah konsensus nasional, kami mengumumkan akhir dari sebuah divisi Palestina yang telah merusak nasional kita," kata Presiden Abbas .

"Halaman hitam ini dalam sejarah telah berubah selamanya."

Tiga pejabat baru yang tinggal di Gaza tak diizinkan oleh Israel menyeberang ke Tepi Barat untuk mengikuti pelantikan tersebut.

Israel ketat mengontrol bagi orang yang keluar Gaza ke wilayahnya sebagai bagian dari apa yang disebutkan keamanan untuk mencegah serangan.

Peringatan Israel

Keputusan Presiden Abbas untuk rekonsiliasi dengan Hamas telah dikecam oleh Israel . Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mendesak para pemimpin dunia untuk tidak terburu-buru untuk mengakui pemerintah baru .

"Hamas adalah organisasi teroris yang menyerukan penghancuran Israel, dan masyarakat internasional tidak harus menerimanya. Itu tidak akan mendukung perdamaian. Itu akan memperkuat teror," kata Netanyahu dalam pertemuan kabinet pada hari Minggu .

Israel mengatakan akan menghentikan semua hal itu. Sementara AS yang telah mensponsori pembicaraan damai Israel-Palestina menyatakan keprihatinannya atas peran Hamas dalam pemerintahan baru ini.

Dalam pembicaran telepon dengan Presiden Abbas, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan pemerintah baru harus berkomitmen untuk prinsip-prinsip non-kekerasan , pengakuan Negara Israel, dan penerimaan dari perjanjian sebelumnya dengan itu.


Ketika Hamas dan Fatah membentuk pemerintahan koalisi pada 2006, negara-negara AS dan Barat lainnya menahan bantuan yang jumlahnya jutaan dolar kepada Palestina karena partisipasi Hamas.

Pemerintah pimpinan Hamas dibubarkan Presiden Abbas pada Juni 2007 dalam langkah yang tidak diakui oleh Hamas. Pembubaran itu sehari setelah pasukan Hamas digulingkan Fatah dari Jalur Gaza.

Hamas telah terus memerintah Gaza sementara Otoritas Palestina di bawah Presiden Abbas memerintah Tepi Barat. (*reuters/lip6)

Umat Muslim Turki Tuntut Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid


rang Eropa menyebutnya Hagia Sophia. Turki memberi nama Ayasofia. Selama 900 tahun, Hagia Sophia adalah gereja. Setelah Sultan Mehmet Sang Penakluk merebut Konstantiopel, bangunan ini -- selama 500 tahun berikutnya -- menjadi Masjid Ayasofya.

Kini, Hagia Sophia atau Ayasofya adalah museum. Status baru bangunan itu diberikan setelah Turki bukan lagi negara Islam. Museum melambangkan sekularisme Turki modern.

Pekan lalu, tepatnya Sabtu (24/5), puluhan ribu Muslim berkumpul di Hagia Sophia atau Ayasofya untuk meminta Recep Tayyip Erdogan -- perdana menteri Turki saat ini -- memfungsikan kembali bangunan itu sebagai masjid.

"Ini dorongan serius untuk mematahkan rantai Ayasofya," ujar Salih Turan, kepala Asosiasi Pemuda Anatolia, yang mengumpulkan 15 juta tanda tangan dari seluruh Turki untuk petisi mengubah Ayasofya kembali menjadi masjid.

Ayasofya, menurut Turan, adalah simbol dunia Islam dan penaklukan Istanbul. Tanpa merebut Ayasofya, penaklukan tidak lengkap.

"Kita gagal menghormati upaya Sultan Mehmet," ujarnya, seraya mengutip akta abad ke-15 yang ditanda-tangani Sultan Mehmeh bahwa barang siapa mengubah fungsi Ayasofya selain masjid adalah dosa.


Hagia Sophia dibangun tahun 537 oleh Kaisar Justinian, penguasa Roma Binzantium yang wilayah kekuasaannya membentang dari Spanyol sampai ke Timur Tengah. Hagia Sophia adalah kata dalam Bahasa Yunani yang berarti 'kebijakan ilahi'.

Selama 900 tahun Hagia Sofia menjadi bangunan tak tertandingi, dan berdiri di tengah kota berdinding tebal sulit ditembus siapa pun, sampai Sultan Mehmet menaklukannya tahun 1453. Sultah Mehmet mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, tapi melestarikan semua ornamen kektistenan di dalamnya.

Tahun 1934 Mustafa Kemal Ataturk, pemimpin Turki modern sekuler, mengubah bangunan itu menjadi museum. Kini, Hagia Sophia atau Ayasofya adalah salah satu daya tarik wisata Turki. Dikunjungi tidak hanya oleh Muslim, tapi juga Kristen.

Dalam beberapa tahun terakhir, bersamaan dengan berkembangnya identitas Islam di bawah Erdogan, muncul minat baru di kalangan Muslim Turki untuk menunaikan shalat di Ayasofya. Sebelum Erdogan muncul, Turki lebih berorientasi ke Barat, dan mencemooh masa lalu Kekaisaran Ottoman.

Erdogan mempromosikan Perayaan Penaklukan Konstantinopel, kota yang kini bernama Istanbul. "Penaklukan Konstantinopel adalah penghapusan belenggu pintu di dalam hati," ujar Erdogan, saat menandai ulang tahun ke-561 kekalahan Bizantium. "Peradaban datang dengan penaklukan."

Sebuah film, yang menggambarkan pengambil-alihan Konstantiopel oleh pasukan Muslim, dibuat tahun 2012 dan dirilis dengan judul Conquest 1453. Jutaan Muslim Turki menyaksikan film ini. Versi lain dari film itu ditayangkan di museum dengan judul Panorama 1453.


Ibrahim Kalin, panasehat senior Erdogan, mengatakan tidak ada rencana mengubah Ayasofya kembali menjadi masjid. Ayasofya, atau Hagia Sophia, telah terbuka menjadi tempat umum dan dikunjungi orang berbagai agama dari seluruh dunia.

Tahun lalu, Erdogan juga mengatakan tidak akan mempertimbangkan usulan mengubah Ayasofya kembali menjadi masjid. Alasannya, Masjid Sultah Mehmed -- dibangun abad ke-17 -- sering kosong. Ia juga mengatakan Istanbul telah memiliki 3.000 masjid, jadi tidak perlu lagi mengubah Ayasofya sebagai masjid.

Namun Muslim Turki percaya menjadikan Hagia Sophia sebagai museum tidak ubahnya merendahkan jasa Sultan Mehmet. Ribuan Muslim Turki merespon pernyataan ini. Mereka berkumpul di Hagia Sophia, mengumandangkan azan di pekarangan masjid, dan sholat berjamaah.

Kampanye juga dilakukan di media sosial. Politisi memanfaatkan situasi, dengan mengusulkan undang-undang yang mengijinkan Muslim shalat di Ayasofya. Politisi lain mengatakan jika Erdogan merespon positif keinginan Muslim Turki, dirinya akan dengan mudah menjadi presiden.

Di luar Turki, komunitas-komunitas Kristen mengecam kampanye ini. Sebuah komisi Kebebasan Beragama Internasional di AS, misalnya, mengecam langkah mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Pengubahan itu, katanya, hanya akan membangkitkan memori penganiayaan terhadap orang Kristen di Konstantinopel.(*inl)