Kunjungi Komplek Al-Aqsa, Paus Fransiskus Diprotes Israel


Dan entah disengaja atau kebetulan, di bagian yang dipilih Paus untuk berhenti, ada semprotan cat yang bertuliskan 'Free Palestine' -- Bebaskan Palestina.

Paus Fransiskus mengadakan kunjungan ke Timur Tengah, termasuk ke Palestina dan Israel -- beberapa pekan setelah gagalnya pembicaraan damai dua negara.

Pemimpin Tahta Suci Vatikan hari ini berkunjung kompleks Masjid al-Aqsa di kota tua Yerusalem disusul dengan lawatan ke Kubah Shakhrakh (Dome of the Rock) dan Tembok Barat.

Kunjungan Paus diwarnai protes pihak Israel. Pasalnya, pria bernama asli Jorge Mario Bergoglio mengunjungi tembok penghalang yang dibangun Israel yang memisahkan kota Betlehem dari Yerusalem pada hari Minggu, yang sama sekali tidak dijadwalkan.

Paus berdoa mengharap dinding yang menjadi simbol pemisahan Arab dan Israel. Gerakan tak terduga juga dilakukan Paus dalam kunjungannya ke Manger Square, yang diyakini menjadi tempat kelahiran Yesus 2.000 tahun lalu.

Paus tiba-tiba meminta mobilnya berhenti, ia lantas keluar, berdoa dan menekankan kepalanya ke dinding -- yang mulai dibangun Israel 1 dekade lalu dengan dalih menggalangi para pengebom bunuh diri menyerang Yerusalem. Sementara Palestina menganggap tembok tersebut sebagai simbol penindasan.

Dan entah disengaja atau kebetulan, di bagian yang dipilih Paus untuk berhenti, ada semprotan cat yang bertuliskan 'Free Palestine' -- Bebaskan Palestina.

Apa yang dilakukan Paus menyenangkan hati rakyat Palestina, tapi tidak bagi Israel. Pejabat negeri zionis berusaha mengecilkan arti keputusan Paus untuk berhenti di penghalang yang mengular di bukit gersang antara Yerusalem dan Tepi Barat.

"Kami mengharap Paus melakukan aksi manusiawi. Tak ada unsur politik di sini," demikian ujar juru bicara Israel yang menuding pihak Palestina mengubah kunjungan Paus ke "aksi propaganda".

Dikutip dari Telegraph, Senin (26/5/2014), Israel akan berbicara soal itu dengan Vatikan melalui saluran diplomatiknya.


Tak hanya itu, Paus juga mengumumkan upayanya untuk mencoba untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Arab-Israel, yang rusak bulan lalu . Dia mengundang Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel, Shimon Peres ke sebuah pertemuan di Vatikan.

Pengumuman tersebut ia sampaikan di depan umat Kristen di Manger Square. "Saya menawarkan rumah saya di Vatikan untuk pertemuan doa, " kata dia. "Membangun perdamaian memang sulit, namun hidup tanpa damai adalah siksaan abadi."

Hanya beberapa jam kemudian, Presiden Peres dan Presiden Abbas menyambut baik undangan tersebut. Pertemuan kemungkinan akan diadakan pada 6 Juni.

Menyebut Palestina Sebagai 'Negara'

Paus disambut gegap gempita saat tiba di Manger Square, orang-orang berseru "Viva al-Baba!" atau "Hidup Paus!" sambil melambaikan bendera Palestina dan Vatikan di bawah langit biru.

Ungkapan Paus yang menyebut 'Negara Palestina' bukan 'Otoritas Palestina', juga keputusannya terbang langsung dari Yordania ke Bethlehem, dengan melewati wilayah Israel, diinterpretasikan sebagai dukungan diam-diam untuk pembentukan negara Palestina.

Apalagi, 2 Paus sebelumnya yang mengunjungi Holy Land, termasuk Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI tiba di Tepi Barat setelah tiba di Bandara Tel Aviv.

"Fakta bahwa ia datang langsung dari Yordania adalah tanda bahwa Paus melihat Palestina sebagai negara," kata Abdo (59), pendeta Kristen dari Bethlehem. " Itu adalah keputusan yang disengaja, bukan secara kebetulan."

"Dia menunjukkan simpati bagi rakyat Palestina, yang dikepung oleh tembok pemisah," kata George Zaineh (55), pemeluk Kristen dari Bethlehem.


Dalam pidatonya, Presiden Abbas mengutuk tembok yang dibangun oleh Israel, menyebutnya " mengerikan".

Dia menuduh Israel melanggar hukum internasional dengan membangun permukiman, menahan warga Palestina di penjara-penjara militer, memaksa umat Muslim dan Kristen keluar dari kota tua Yerusalem.

Setelah misa, Paus mengunjungi sebuah kamp pengungsi Palestina di luar Betlehem, di mana anak-anak Palestina mengangkat poster dalam Bahasa Inggris dan Arab. "Kembali ke rumah kami adalah hak kami yang paling suci." (*telegraph/lip6)


0 comments:

Posting Komentar