Dicap Pengkhianat! Prajurit AS Bowe Bergdahl, Diculik atau Membelot?


Setelah penukaran seorang tawanan tentara Amerika Serikat (AS), Sersan Bowe Bergdahl, dengan lima tahanan penting Taliban, Partai Republik di AS terus meminta penjelasan dari presiden Obama mengenai keadaan yang sebenarnya mengenai kejadian tersebut.

Seperti dilaporkan aol.com, Selasa 3 Juni 2014, pihak Gedung Putih meminta maaf kepada para anggota dewan perwakilan karena tidak memberi kabar sebelumnya kepada mereka berkenaan dengan penukaran lima tahanan Taliban dengan Sersan Bowe Bergdahl.

Senator Dianne Feinstein (Demokrat dari negara bagian California) dan Saxby Chambliss (Republikan dari negara bagian Georgia) adalah anggota komite senat untuk intelijen. Keduanya mengatakan para pejabat Gedung Putih menghubungi mereka di hari Senin untuk mengatakan bahwa tiadanya pemberitahuan sekadar salah pengertian.

Feinstein juga menerima panggilan dari Wakil Penasehat Keamanan Nasional Tony Blinken. Gedung Putih tidak segera memberi komentar tentang percakapan itu.

Upaya membela diri oleh Gedung Putih dilakukan setelah para anggota dewan dari Partai Republik menuduh Gedung Putih telah membahayakan para anggota tentara AS dengan melepaskan lima anggota penting Taliban yang ditahan di Guantanamo untuk ditukar dengan Bergdahl.

Seperti dikutip dari The New York Times, Selasa 3 Juni 2014, sebetulnya ada statuta tingkat federal yang mewajibkan Pentagon untuk mengabari Kongres sebulan sebelum memindahkan lima tahanan Taliban itu sebelum tuntasnya pertukaran.

Namun, pemerintahan Obama menyebutkan keadaan tak biasa yang tidak memungkinkan adanya pemberitahuan sebulan sebelumnya, terutama terkait kesempatan yang hanya kurang dari 30 hari untuk mendapatkan Bergdahl kembali.

Presiden Obama bersikeras telah menjadi tanggung jawabnya untuk membawa kembali setiap anggota pasukan AS.

Pahlawan atau pengkhianat?

Dari CNN (3 Juni 2014), ada laporan bahwa Bergdahl sebenarnya mangkir dari militer dan bukan diculik atau ditawan melawan kehendaknya sendiri. Bekas komandannya, Sersan Evan Buetow, mengatakan bahwa Bergdahl adalah seorang yang telah mangkir dari dinas.

Setelah menghilang beberapa hari, kelompok-kelompok pasukan AS terus memantau pembicaraan radio dan telepon genggam yang mereka sadap sehingga diketahui bahwa Bergdahl berada di Yahya Khel, suatu desa yang berjarak lebih dari 3 kilometer jauhnya.

Waiting: As two Black Hawk helicopters draw closer, Bergdahl stands surrounded by armed men

Menurut penerjemah tentara AS, Bergdahl terdengar mencari-cari seseorang yang dapat berbahasa Inggris. Buetow penasaran dengan hal ini.

Menteri Angkatan Darat John McHugh mengatakan kasus ini akan ditangani secara menyeluruh dan terkoordinasi agar mendapat gambaran jelas tentang apa yang terjadi dengan hilang dan ditahannya Bergdahl.

Mantan komandan itu bercerita bahwa di malam hilangnya Bergdahl, peletonnya sedang berada di pos kecil yang terdiri dari dua bunker dipagari oleh truk-truk militer. Bluetow berada di salah satu bunker dan Bergdahl seharusnya berada di tenda di dekat salah satu truk.

Switch: The Taliban has released a video showing the handover of Sgt Bowe Bergdahl to the American military close to the Afghan border. Bergdahl can be seen in the back of a white pickup truck

Kemudian muncul berita radio yang menanyakan keberadaan Bergdahl. Ternyata, seorang rekan tentara yang akan membangunkannya untuk berganti jadwal jaga malam, tidak dapat menemukannya di tenda.

Anehnya, senjata, rompi anti-peluru, dan peralatan penglihatan malam miliknya ditinggalkan di tenda. Seorang saksi di peleton yang sama mengatakan bahwa Bergdahl menghilang hanya dengan membawa kompas, sebilah pisau, air minum, kamera digital, dan buku harian.

Peningkatan serangan

Selama 60 hari setelah hilangnya Bergdahl, pasukan AS seperti mencari hantu. Pencarian itu juga mengalihkan banyak sumber daya yang biasanya dipergunakan untuk operasi militer. Lebih dari itu, enam orang tentara telah tewas dalam upaya pencarian. Upaya pencarian itu sendiri bukan menjadi penugasan secara khusus, namun mengikuti arahan intelijen.

Peleton tersebut mengakui meningkatnya serangan terhadap mereka di Propinsi Paktika itu setelah peristiwa hilangnya rekan mereka. Bukan hanya jumlah serangan, tapi tingkat keganasan dan ketepatan serangan juga meningkat.

Serangan menggunakan peledak yang diperbarui (IED) juga semakin sering dan semakin mematikan. Daya hancurnya meningkat karena penempatan bom yang semakin sempurna dalam sergapan-sergapan terhadap truk-truk militer AS.

Dalam pandangan Buetow, mantan komandan peleton itu, peningkatan serangan ini mencurigakan karena Bergdahl mengetahui informasi penting mengenai pergerakan truk-truk tentara AS, persenjataan yang ada dalam truk-truk tersebut, dan bagaimana militer AS memberi reaksi terhadap serangan-serangan. (*lip6.laporan)

0 comments:

Posting Komentar