Ingin Dilengserkan, Begini Curhat SBY


Hampir genap 10 tahun memimpin Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) blak-blakan soal perjalanannya menjadi Presiden. Termasuk soal rentetan upaya pelengseran oleh sejumlah pihak terhadap dirinya.

"Sejak tahun pertama saya menjabat sebagai presiden hingga sekarang ini, saya masih mendengar dan mengetahui adanya usaha dan gerakan yang mencoba menurunkan saya di tengah jalan. Tentu dengan berbagai alasan," tulis SBY dalam bukunya berjudul 'Selalu Ada Pilihan'.

Presiden ke-6 RI itu membeberkan sejumlah upaya kudeta terhadap dirinya. Dimulai dari pernyataan (alm) mantan Menteri Negara Investasi Rozy Munir yang mengatakan kepada SBY bahwa ada kelompok yang meramal pemerintahan Pak Presiden hanya bertahan 7 bulan.

"Artinya, pemerintahan saya akan jatuh segera jatuh. Ketika saya tanyakan apa yang menjadi alasan mereka sehingga merasa yakin bahwa saya akan jatuh dalam waktu yang singkat, Mas Rozy juga tidak mendapatkan jawaban yang jelas," ujar SBY

Upaya pemakzulan lain diungkapkan calon Gubernur Banten Usamah Hisyam. Ketika itu, pada 2006, Usamah menyampaikan hasil pertemuannya dengan tokoh nasional kepada SBY.

Usamah bilang Pemilihan Gubernur Banten akan tertunda atau terpaksa harus ditunda. Apa pasal? Menurut Usamah, tokoh nasional yang ia temui tersebut sangat meyakini bahwa SBY akan jatuh pada akhir tahun 2006.

"Setelah itu akan ada pemerintahan peralihan, dan bukan Pak Jusuf Kalla yang akan menggantikan SBY menjadi Presiden. Nah, pemimpin peralihan itulah yang akan menentukan kapan dilaksanakannya pemilihan gubernur di Provinsi Banten itu," tulis SBY menceritakan ucapan Usamah.

Gerakan meminta SBY mundur juga pernah muncul dalam tayangan stasiun televisi. Ada gerakan politik 'Cabut Mandat Presiden'. Dalam satu adegan talkshow, ada yang bertanya kepada seorang tokoh yang aktif dalam gerakan cabut mandat itu.

"Anda akan mencabut mandat SBY. Dasarnya apa?" kata si penanya. "Dasarnya karena rakyat yang memberikan mandat kepada SBY, termasuk saya, tidak lagi mendukung SBY," jawab tokoh gerakan cabut mandat.

"Jadi?" balas si penanya. "Ya, manda akan saya ambil kembali. Dan, kemudian, SBY harus mundur atau diturunkan," jawab si tokoh.

Mendengar dialog itu, SBY mengaku tersenyum karena Presiden tahu yang memberikan mandat ke dirinya berdasarkan hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 jumlahnya mencapai 66,2 juta.

"Saya tidak yakin, tokoh yang bicara di TV itu diberi mandat oleh 66,2 juta rakyat kita untuk mencabut mandat yang diberikan kepada saya. Ternyata, keyakinan saya tidak keliru. Dua tahun kemudian, pada Pemilihan Presiden tahun 2009 pencabutan mandat rakyat itu tidak terjadi," tulis SBY.

Upaya pelengseran tak hanya sampai di situ. SBY mengungkap, ada lagi gerakan sejumlah purnawirawan TNI. Gerakan itu bahkan mengatasnamakan para purnawirawan Angkatan Darat (AD) yang Presiden yakini tidak benar.

"Saya sendiri purnawirawan. Teman-teman purnawirawan saya juga banyak, dan tidak semua setuju dengan kelompok yang selalu dan dengan mudahnya mengatasnamakan purnawirawan Angkatan Darat itu," cerita SBY pada bagian bertajuk 'Mundur. Diturunkan Rakyat atau Di-impeached?'.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriyah, SBY mengaku menerima SMS atau pesan singkat dari sahabatnya, yakni seorang mayor jenderal yang satu angkatan di Akademi Militer dengan SBY.

Kata SBY, temannya itu menyampaikan isi SMS tersebut, bahwa ada gerakan di DPR untuk melakukan impeachment kepada Sang Presiden atas tuduhan keterlibatannya dalam kasus Bank Century.

"SMS itu segera saya jawab yang intinya saya siap menghadapi gerakan itu. Meskipun saya tidak paham apa logika di balik itu. Perang politik di DPR atas kasus bail-out Bank Century sudah selesai hampir dua tahun yang lalu. Hingga saat itu para penegak hukum tidak menemukan adanya korupsi dalam penyelamatan bank tersebut," jelas SBY.

"Kecuali kalau di kemudian hari memang ada kejahatan korupsinya. Kemudian, keputusan bail-out Bank Century itu sendiri, dan sebenarnya itu pun sebuah kebijakan dan bukan kejahatan korupsi, juga bukan keputusan dan perintah dari saya," imbuh dia.

SBY pun menegaskan, apabila ada yang bermain-main dengan kebenaran, ia bakal menghadapinya. "Itu prinsip dan keyakinan politik saya," tulis SBY.

Presiden ke-6 RI itu juga menepis adanya pembahasan bail-out Bank Century pada pertemuan di kantor presiden 6 Oktober 2008. Kabar itu disebut-sebut datang dari Ketua KPK kala itu, Antasari Azhar, yang turut hadir di pertemuan.

"Berita itu sudah dibantah oleh Pak Antasari sendiri dan juga pengacara beliau. Saya juga sudah menjelaskan apa isi pertemuan itu, termasuk transkip yang kemudian saya bagikan kepada insan pers," urai SBY.

"Menyebut satu kata Bank Century pun tidak terjadi. Jadi 1.000 persen berita itu bohong," imbuh dia.

***

Gerakan untuk menurunkan Presiden SBY kembali muncul pada Maret 2013, yang dimotori sejumlah politisi atau tokoh LSM. SBY menilai alasan penggulingan tersebut dibuat-buat. Semau-maunya yang ingin menjatuhkan.

"Konon, mobilisasi massa sudah dipersiapkan. Demikian juga dukungan logistiknya. Pokoknya mereka yakin dalam hitungan minggu SBY akan jatuh," jelas SBY.

SBY mengaku kenal dengan penggerak upaya penggulingan tersebut. Dia juga yakin ada tokoh yang melakukan dukungan atau bermain di belakang layar.

"Masyarakat mengetahui yang die hard memimpin gerakan penggulingan itu adalah Ratna Sarumpaet dan Adhie Massardi, yang sebenarnya saya juga kenal secara pribadi," tulis SBY.

Tapi pada akhirnya, gerakan kudeta itu tak berjalan sesuai rencana. Mimpi para pihak yang ingin menggulingkan tak terwujud.

"Saya agak "surprise", dan tentunya bersyukur bahwa banyak tokoh dan politisi yang selama ini berjarak dengan saya justru bersikap sebaliknya," urai SBY. (*lip6)

0 comments:

Posting Komentar