Diduga Rekayasa, Video Pemenggalan Foley Janggal?


James Wright Foley alias Jim tidak akan menjadi pekerja media terakhir yang meregang nyawa di tangan militan Negara Islam alias Islamic State (IS). Pria 40 tahun itu barangkali juga tidak akan menjadi warga Amerika Serikat (AS) terakhir yang kembali ke tanah airnya dalam kantong mayat.

***

Ahli forensik menduga video pemenggalan jurnalis Amerika Serikat, James Foley oleh algojo ISIS direkayasa, karena ada yang janggal. Namun, mereka tetap percaya Foley sudah tewas dieksekusi algojo Negara Islam Irak dan Suriah itu.

Hingga kini, masyarakat internasional masih ramai membicarakan video pembunuhan Foley yang beredar sejak 19 Agustus. Bukan hanya adegan yang dianggap sadis yang membuat YouTube menghapus video tersebut dari situs mereka, tetapi juga aksen Inggris sang algojo.

Belakangan, berkembang informasi bahwa pria yang berpakaian serba hitam itu bukan oknum pemenggal kepala Foley.

Aki Peritz mengungkapkan, adanya kemungkinan bahwa IS yang dulu dikenal dengan nama ISIS (Islamic State) mengedit video tersebut.

Mantan pengamat antiteror pada Badan Intelijen Pusat AS (CIA) itu tidak yakin algojo yang hanya membawa sebilah pisau kecil tersebut menebas kepala Foley. Setidaknya, pemenggalan itu tidak terjadi segera setelah Foley menyampaikan pesan terakhirnya.

Mungkin, menurut dia, algojo yang kabarnya berasal dari Inggris itu memang membunuh jurnalis foto lepas Global Post tersebut. Tetapi, Peritz hampir pasti yakin bahwa bukan algojo itu yang memisahkan kepala Foley dari tubuhnya.

Sebelum muncul gambar mengerikan yang menunjukkan mayat korban, layar tiba-tiba menjadi hitam selama beberapa detik, katanya sebagaimana dilansir Washington Post Jumat (22/8).


Selain kejanggalan pada adegan pemenggalan, Peritz juga mengungkap fakta lain yang makin membuat dia tidak yakin bahwa algojo Inggris itu memenggal Foley.

Pakaian dan tangan algojo tersebut sangat bersih saat mendampingi (Steven Joel) Sotloff dalam rangkaian video itu, ungkap penulis buku Find, Fix, Finish: Inside the Counterterrorism Campaigns that Killed bin Laden and Devastated Al Qaeda.

Sotloff juga merupakan jurnalis AS yang saat ini mereka sandera. Dalam video itu, disebutkan bahwa nyawa Sotloff bergantung pada langkah AS dalam menyikapi sepak terjang ISIS di Iraq.

Bisa jadi, menurut Peritz, video tentang Sotloff tersebut dibuat sebelum pemenggalan Foley. Bahkan, adegan itu mungkin direkam pada hari yang berbeda.

Kelompok IS yang sebelum menjadi ISIS dikenal sebagai Al Qaeda Iraq itu sudah banyak berubah. Kini mereka lebih modern serta melek teknologi dan paham cara mengedit video, paparnya.

Dalam artikelnya, Peritz menyatakan, ISIS memang ingin menyita perhatian dunia agar keinginan mereka tercapai. Apalagi, sebelum akhirnya memenggal Foley, mereka berkorespondensi lewat e-mail dengan orang tua korban.

Dalam rangkaian surat elektronik itu, mereka menyebutkan harga yang harus dibayar untuk nyawa Foley. Yakni, uang tebusan atau kesepakatan politik dengan Washington.

Perusahaan forensik, yang meminta syarat anonim, ketika hasil analisisnya dipublikasikan itu tidak bisa menyimpulkan keabsahan video pemenggalan Foley, meski mereka tetap percaya jurnalis AS itu sudah tewas dieksekusi.

Aymenn al-Tamimi, seorang analis Timur Tengah mengatakan, selama bertahun-tahun militan ISIS telah meningkatkan kualitas produksi video mereka. Dengan demikian, dugaan ada rekayasa dalam video itu sangat mungkin.


0 comments:

Posting Komentar