Hamzah Fansuri Pelopor Satra Sufi Melayu


Hamzah Fansuri ialah seorang penyair yang dipercayai dilahirkan pada akhir abad ke-16 di Barus. Hamzah Fansuri menghasilkan karyanya itu pada masa Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam memerintah Aceh dalam tahun 1606-1636 M. 

Berdasarkan ini, dapatlah dikatakan bahawa karyanya itu tercipta pada awal abad ke-17. Ia menghasilkan beberapa buah syair dan prosa. Perhatikan bahasa yang terdapat dalam petikan 'Syair Perahu'nya ini:

Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah i'tikad diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu

Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Dengan penggunaan bahasa yang indah dan dengan perumpamaan yang sederhana, Syair Perahu ini pada suatu masa menjadi sebutan orang ramai. Ia digunakan oleh ibu bapa untuk menasihati anaknya agar mentaati ajaran Islam.

***

Syekh Hamzah Fansuri termasuk seorang dari para perintis jalan baru. Karya-karyanya menjadi pertanda lahirnya era Melayu Klasik. Namun demikian, tidak berarti bahwa sebelumnya rakyat Melayu tidak pernah menghasilkan karya puisi sama sekali.

Namun Hamzah Fansuri ialah tokoh pemula puisi Melayu Klasi tertulis, sebagai suatu jenis sastra yang nyata dan mempunyai bentuknya yang tersendiri. Hamzah Fansuri juga telah membuka cakrawala perkembangan prosa mistik-keagamaan yang bersifat ilmiah. Namun tidak pula berarti prosa demikian sama sekali tidak terdapat di dalam kebudayaan Melayu sebelumnya.

Tetapi prosa berbahasa Arab dan Parsi dengan gaya ilmiah yang tersebar didunia Melayu. Hamzah Fansuri menyusun uraian semacam trilogi tasawuf dalam bahasa Melayu. Ketiga-tiga karangannya masing-masing berbeda dalam cara menyampaikan isinya. 

Karangan pertama, yang diberi judul Syarab al-'Asikin, menjadi semacam kitab pedoman yang sistematis dan agak ringkas serta mudah dipahami bagi para santri baru, yang sedang menempuh jalan pengenalan Tuhan.

Karangan prosa kedua Hamzah Fansuri berjudul Asrar al-Arifin, juga sebuah karangan ikhtiar tasawuf yang ditujukan bagi pembaca yang lebih tinggi pengetahuannya. Karangan Hamzah Fansuri ketiga sebuah kitab yang berjudul Al-Muntahi, yang memberi tafsir atas sebuah hadits terkenal; "Barang siapa mengenal diri sendiri, telah mengenal pula Tuhannya". Al-Muntari dapat dipahami, sebagaimana mestinya hanya bagi para ahli tasawuf yang sudah maju dalam jalan ma'rifat.

Kitab-kitab karya prosa Hamzah Fansuri tidak seperti kitab-kitab karya ilmuwan yang menunjuk-nunjuk pandai dan membosankan, seperti tidak jarang dijumpai dalam sastra sufi Melayu dari zaman sesudah Hamzah Fansuri. Citra-citra yang banyak dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karya prosanya umumnya sederhana, mudah difahami, palstis dan ekspresif.

Lebih menarik lagi ialah citra-citra yang menghiasi puisi-puisi Hamzah Fansuri, yang tergolong dalam genre syair ciptaannya sendiri-sendiri. Syair-syair Hamzah Fansuri agak singkat dan menampakkan beberapa kemiripan dengan gazal parsi. Syair-yair karya Hamzah Fansuri bisa digolongkan dalam dua kelompok. Kelompok yang pertama kurang lebih serupa dengan kitab tasawuf, yang secara langsung mendakwahkan ajaran sufi. Kelompok yang kedua mengungkapkan ide-ide yang sama, tetapi secara tidak langsung melalui citra-citra simbolik yang khas sufi.

Biasanya syair-syair dakwah bermula dengan imbauan, "Aho, segala kita yang bernama insan". Imbauan ini disusul dengan uraian tentang salah satu konsep tasawuf yang lazimnya sarat dengan kutipan-kutipan dan reminisensi al-Qur'an, hadits, ucapan-ucapan para sahabat Nabi dan tokoh tasawuf yang berwibawa. 

Syair-syair simbolik Hamzah fansuri yang jauh berbeda dari syari-syair dakwahnya yang terus terang ini lebih menarik dari segi seni sastra. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa metafisika dan ilmu ilahi hampir tidak terdapat didalamnya. Kutipan reminisensi dari al-Qur'an memang sedikit sekali.

Kadang-kadang kutipan itupun tampil dalam versi Melayu, bukannya versi Arab seperti misalnya dalma baris tentang Yang Maha Tinggi; "Ia pertipu dan banyak daya", yang bersesuaian dengan ayat-ayat al-Qur'an. Syair-syair simbolik Hamzah Fansuri tidak dapat dipahami tanpa pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dan baku ataupun dari guru. Itulah beda syari-syair tersebut dari syair dakwah Hamzah Fansuri.

Estetika sufi berdasarkan cinta ('isq), dan cinta adalah tema sentral sastra sufi. Kitab karangan Hamzah Fansuri sendiri berjudul Syarab al-Asikin dan minuman pecinta yang berani ialah anggur tauhid, oleh karena itu tak mungkin membicarakan puisi-puisi penyair sufi tanpa membicarakan 'isq dan keindahan tertinggi yang menimbulkan 'isq.

Puisi-puisi Hamzah Fansuri merupakan gema dari dunia yang lebih tinggi, yaitu dunia Ketuhanan Syekh merujuk sabda Nabi yang mengatakan bahwa segala perbuatan seorang mukmin itu mesti disertai dengan kesempurnaan, dan kesempurnaan suatu perbuatan terletak pada adanya puji-pujian kepada Tuhannya, yakni sejauhmana ia merefleksikan sifat-sifat Tuhan. Syair-syair sufi sepenuhnya merupakan doa dan puji-pujian kepada Tuhan atau ajakan kesana kepada para pembacanya.

A.Teeuw menyebutkan paling tidak ada tiga corak puisi Hamzah Fansuri sehingga dapat disebut modern dalam permulaan puisi Indonesia bukan Melayu saja. Pertama, individulitasnya; puisinya tidak anonim seperti biasa terjadi dengan sastra Melayu lama. Hamzah Fansuri dengan tegas mengemukakan dirinya sebagai pengarang syairnya, tidak hanya dalam sebuah kolofon atau pascakata, tetapi didalam teks puisinya sendiri, dia menerapadukan namanya dengan kepribadiannya dalam puisinya.

Dengan demikian Hamzah Fansuri melambangkan era baru dalam sastra, sebagai ungkapan seorang individu yang memanisfestasikan kepribadian secara sadar dalam puisi. Inilah justru ciri kemodernan, juga dalam sejarah sastra di Eropa. Seakan-akan dia menonjolkan hak ciptanya secara eksplisit. 

Kedua, Hamzah Fansuri menciptakan bentuk puisi baru untuk mengungkapkan gerak sukmanya, dengan istilah Tatengkeng. Hal itu kita lihat kemudian dalam perkembangan puisi Indonesia pada abad ini, misalnya dengan penciptaan soneta oleh penyair tahun 20-an dan 30-an.

Ketiga, menyangkut pemakaian bahasa yang sangat kreatif. Misalnya pemakaian kata-kata Arab yang sangat menonjol dalam puisinya. Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab itu berlebihan dan mengganggu. Pembaca yang suka didendangkan oleh puisi, dan yang menganggap puisi sesuatu yang dapat dinikmati dengan emosi saja, tanpa perlu berpikir, pasti merasa kecewa atau bosan ketika membaca puisi ini untuk pertama kali.

Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan luas dibidang bahasa dan kebudayaan Arab-Parsi, termasuk pengetahuan tentang agama Islam, khususnya aspek tasawufnya. Tanpa pengetahuan semacam ini puisi Hamzah Fansuri tak terpahami. Tetapi dari segi inipun puisi Hamzah Fansuri sebagai puisi inovatif bukan tak ada kemiripannya dengan puisi Chairil Anwar yang juga pada masa itu mungkin sukar dipahami oleh kebanyakan pembacanya. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetahuan yang diperlukan itu bukanlah tanda kelemahan atau ketakberhasilan puisi Hamzah Fansuri.

Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik, diksi puisinya khas, ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinil, begitu juga tamsil dan imagenya. Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual, modern, kaya akan kreativitas dan iventivitas bahasa. Dengan memasukkan banyak kata-kata Arab, bahkan ayat-ayat al-Qur'an, Hamzah Fansuri bukannya menerjemahkan bahan-bahan Arab tetapi mengintegrasikannnya kedalam syair yang diciptakannya, yang dengan itu bahasa Melayu baru dapat dilahirkan. (*inl)

0 comments:

Posting Komentar