Jika Intifada Al-Aqsa Meletus, Rezim Arab Diguncang Revolusi



Yaser Zaaterah

Situasi saat ini di public Palestina dan tindakan pemicu yang dilakukan Zionis saat ini diyakini lebih layak akan memicu Intifada baru di banding situasi di tahun 2000 yang memicu Intidah Jilid II atau lebih dikenal dengan Intifadah Al-Aqsha.

Intifada al-Aqsha meletus setelah tujuh tahun digelarnya perundingan Oslo yang sia-sia. Sementara situasi saat ini di Palestina terjadi setelah 10 tahun usaha perundingan yang digelar Mahmud Abbas yang tanpa hasil. Kondisi saat ini lebih buruk dibanding masa Yaser Arafat saat ikut KTT Cam David di tahun 2000.

Intifada al-Aqsha dipicu oleh kunjungan penistaan Ariel Sharon ke masjid Al-Aqsha untuk menegaskan hak Yahudi di sana. Sementara aksi penistaan seruap saat ini lebih hebat dan tidak pernah kenal henti. Saat ini pejabat resmi di lingkungan pemerintah resmi 'Israel' masuk masjid Al-Aqsha.

Pelanggaran 'Israel' terhadap masjid Al-Aqsha, pembangunan pemukiman yahudi dan aksi yahudisasi Al-Quds saat ini jauh lebih massif di bandingkan dengan tahun 2000. Bahkan keputusan pemerintah Zionis membagi (dari sisi tempat) area masjid Al-Aqsha dilakukan tanpa ada proses perundingan politik namun sepihak 'Israel'.

Bangsa Palestina tetap bangsa Palestina. Tidak bisa disebut generasi saat ini lebih baik di banding dulu. Namun bedanya adalah otoritas Palestina dan Fatah, terutama di jajaran pimpinannya termasuk PLO, itu bedanya kini dan dulu.

Rute perundingan saat ini berbeda. Selama tahun-tahun perundingan Oslo (tujuh) tahun sebelum Intifada Al-Aqsha, aparat keamanan Palestina dari kalangan nasionalis kebangsaan, lulusan sekolah perjuangan. Sementara aparat keamanan Otoritas Palestina pimpinan Abbas saat ini adalah "merek Palestina baru" yang dibentuk dan dikader oleh jenderal Amerika Dayton.

Jenderal ini sengaja diundang dari Amerika setelah pembunuhan Arafat terjadi. Ia datang bersama timnya yang siap melakukan konspirasi. Sebanyak 3000 komandan keamanan Palestina dipensiunkan oleh Dayton karena dianggap tidak sejalan dengan standarisasi baru ini. Standar yang paling berbahaya dibuat oleh Dayton; melawan penjajah 'Israel' bukan bagian dari tugas keamanan Palestina, apapun kondisinya.

Ini berarti adalah proses pembentukan kesadaran baru atau brand washing yang dimulai sejak 10 tahun lalu. Aparat keamanan Palestina itu kemudian disibukkan dengan karier, uang, kerja dan gaji. Termasuk tugas menaikkan karier dengan menguasai masjid-masjid dan lembaga-lembaga yang merupakan basis gagasan perlawanan Palestina.

Apakah ini mengubah kesadaran Palestina benar-benar? Mungkin berpengaruh sebagian. Jika diperhatikan "pesta rakyat"membela perlawanan dan keberpihakan warga Palestina terhadap program perlawanan selama agresi 'Israel' ke Gaza, maka masih bisa disimpulkan bawha spirit meledakkan Intifada itu masih hadir, meski itu harus dikepung oleh aparat keamanan Palestina.


Bahkan aksi pribadi belakangan yang mentarget 'Israel' adalah respon ketidak berdayaan untuk membentuk sel bersenjata melawan penjajah. Sel-sel itu yang dibentuk dan dibentuk sepanjang waktu meski harus melawan dua kekuataan bersamaan yakni penjajah dan keamanan otoritas Palestina. Sehingga anggota sel perlawanan di Tepi Barat dan Al-Quds harus beralih menjadi tawanan.

Lantas apakah Intifada baru masih mungkin meletus? Jika dilihat dari dimensi luar kawasan Palestina, maka di tingkat kawasan Arab maka Intifada akan sangat mungkin meletus. Sebab siapapun yang ingin menghancurkan bangsa dan kebebasannya setelah mereka melakukan revolusi, maka mereka harus melakukan perundingan dengan musuhnya. Sementara kini rezim-rezim Arab berusaha mengekang revolusi rakyatnya dan mendukung zionis.

Intifada yang akan meletus kali ini jika hanya melibatkan bangsa Palestina saja, tanpaknya sangat sacral dan suci. Intifada kali ini bisa jadi akan akan memantik revolusi Arab yang baru. Rezim-rezim Arab akan berhadapan dengan massa Arab yang mendukung Intifada Palestina. (*Eldoustur Jordania/at/infopal)


0 comments:

Posting Komentar